Tradisi Upacara Kasada di Gunung Bromo

 
Tradisi Upacara Kasada di Gunung Bromo adalah upacara tahunan yang dinamakan Yadnya Kasada yang juga selalu diselenggarakan oleh masyarakat setempat asli Tengger di Kabupaten probolinggo,Upacara ini selalu diadakan setiap tahun sekali,  Pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Kawah Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu sesaji tersebut kan di dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai ucap rasa syukur  kepada Dewa Bromo yang dipercaya telah bersemayam di Kawah Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh yang Maha Kuasa rohani dan jasmani di dunia maupun di masa setelah akhir dari dunia.
Upacara Kasada menyadarkan banyak orang bahwa Gunung Bromo tidak hanya sekedar objek pariwisata alam yang terkenal dengan Keindahan Gunung Bromo nya saja. Anda boleh saja mengenal Bromo sebagai gunung yang indah, dengan kawah aktif dan panorama memukau mata dan lautan pasir di sekelilingnya. Sebagai salah satu primadona Provinsi Jawa Timur, Gunung Bromo menjadi destinasi wajib bagi para pelancong domestik dan mancanegara dan terlebih lagi Sebagai Objek Tambahan Wisata dan Bulan Madu di Bromo, Tapi tahukah Anda, mereka tak hanya mengincar keindahan alamnya saja. Masyarakat Tengger yang bermukim di lereng Gunung Bromo lekat dengan tradisi turun-temurun, salah satunya Upacara Kasada.

Upacara adat ini menjadi salah satu alasan para pelancong untuk belajar sedikit tentang tanggalan Jawa.
Kenapa?
Karena Upacara Kesada dilakukan pada malam ke-14 bulan Kesodo. Hari ini bisa jatuh di bulan masehi apa saja, bisa antara Februari dan Maret, atau bahkan Agustus seperti tahun 2011 kemarin. Pada malam hari ini, masyarakat Tengger mengenakan baju adat untuk memulai prosesi upacara. Kasada diawali oleh pementasan tarian tradisional Rara Anteng dan Jaka Seger.

Konon, dua nama ini adalah pasangan yang pertama tinggal di lereng Gunung Bromo dan Gunung Batok  Nama 'Tengger' kemudian diambil dari potongan nama mereka. Tepat pukul 00.00 WIB, dilakukan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di lautan pasir Gunung Bromo.

Dukun bagi masyarakat Tengger adalah pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang bertugas memimpin upacara-upacara ritual.
Agar mereka bisa diangkat oleh para tetua adat, para calon dukun harus hafal mantera-mantera.
Jumlah manteranya tidak sedikit dan lafalnya sama sekali tidak mudah!

Dukun yang terpilih lalu memimpin rombongan suku Tengger naik ke puncak Gunung Bromo, 2.392 mdpl. Mereka membawa sesaji dalam jumlah banyak, berupa hasil pertanian, buah-buahan, juga hewan ternak. Sesaji inilah yang menjadi persembahan untuk arwah para nenek moyang Sesaji itu lalu dilempar ke dalam kawah sebagai pengantar harapan akan hidup yang lebih makmur. Dari tahun ke tahun, upacara Kesada selalu dipenuhi para pelancong yang ikut serta dalam ritual.
Bahkan bagi beberapa orang, upacara ini adalah poin utamanya. Panorama indah Gunung Bromo bisa dinikmati di sela-selanya.

setelah melihat dan membaca ulasan tentang upacara kasada di Gunung Bromo, baca juga tentang ulasan wisata lainya, khususnya  paket wisata Gunung Bromo, Tentang Objek Wisata Gunung Bromo, dan bagi anda yang ingin merencanakan Wisata ke Gunung Bromo Jawa timur, Indonesia silahkan kontak kami untuk informasi lebih lanjut.