Mata Pencaharian Masyarakat Tengger ( Area Gunung Bromo )

Mata Pencaharian Masyarakat Tengger ( di Gunung Bromo ) Suku Tengger merupakan salah satu suku yang berada di jawa timur yang tinggal di lereng-lereng pegunungan Terngger ( Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ) mereka menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Mata pencaharian mayoritas masyarakat daerah ini bertani. alat transportasi mereka kebanyakan menggunakan kendaraan sepeda motor bila hendak ke ladang atau berkebun. Jika tiba waktu panen, barulah mereka menggunakan Transportasi jeep untuk mengangkut hasil bertani tersebut. Hasil panen tidak disimpan di gudang atau rumah mereka sendiri melainakan yang juga dibungkus dengan karung-karung khusus dan ditaruh di tepian kebun. Hal ini untuk memudahkan pelanggan pertama ke pasar. Gudang-gudang sederhana yang terbuat dari papan kayu ini sering kali menjadi tempat tinggal pada saat musim panen.

masyarakat bromo

Asal Suku tengger sendiri pada dasarnya bermata pencaharian petani hortikultura. Lahan yang digunakan adalah llereng-lereng pegunungan yang ada di Gunung Tengger sendiri, Tempat ini tidak digunakan untuk tempat bertanam padi. Pertanaian di Tengger ini cocok untuk bertani tanaman sayur mayur dan ubi ubian. Kesuburan tanah yang berada di lahan lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini jura tidak luput dari kondisi gunung berapi aktif yaitu Gunung bromo dan Gunung Semeru. Petani Tengger dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai mengganti dengan tanaman perdagangan, seperti kentang , wortel, bawang daun, tomat, sawi, kol putih, kol merah dan kembang kol. Mereka tidak perlu menjual ke luar desanya karena sudah ada para pengepul yang datang dari Probolinggo, Pasuruan bahkan dari Surabaya datang untuk membeli hasil pertanian dari Tengger.

Tanaman kentang pada umumnya bisa dipanen tiga kali dalam satu tahun, terutama di kawasan yang subur dengan kondisi musim dan cuaca yang baik. Sementara di dataran yang sangat sedikit potensi air bawah tanah, ditambah dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, panen hanya bisa dilakukan dua kali dalam setahun. Tanah pertanian yang berbukit-bukit curam, dengan kemiringan sampai lebih dari 45 derajat , diolah dengan sistem terasiring. Sistem ini memungkinkan, petani suku Tengger melakukan usaha budidaya tanaman. Tidak ada alat teknologi pertanian yang dipergunakan, selain cangkul dan sabit.

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger”.

Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Bahasa daerah yang digunakan Masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Jawa Tengger, yakni bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak menggunakan tingkatan bahasa, berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai pada umumnya memiliki beberapa tingkatan.

Tengger dikenal sebagai tanah hila-hila (suci) sejak jaman Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi dibidang keagamaan dari Sang Hyang Widi Wasa. Hingga kini Masyarakat masih mewarisi tradisi Hindu sejak jaman kejayaan Majapahit. Agama Hindu di Bali dan di Tengger pada dasarnya sama yaitu Hindu Dharma, tetapi Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih menganut tradisi yang pernah berkembang pada jaman Majapahit.

Masyarakat Tengger kaya akan kepercayaan dan upacara adat, diantaranya ialah:
Upacara Karo, yang merupakan hari raya terbesar masyarakat Tengger. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka mengenakan pakaian baru dan kadang perabotpun juga baru. Makanan dan minumanpun melimpah. Tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah: Mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal usul manusia, untuk kembali pada kesucian

Upacara Kapat, jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.

Upacara Kawulu, jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tahun saka. Pujan Kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.

Upacara Kasanga, jatuh pada bulan sembilan (sanga) tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kentongan dan membawa obor. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke rumah kepala desa, untuk dimantrai oleh pendeta. Selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.

Upacara Kasada di Bromo, diadakan pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Masyarakat Tengger mendaki Wisata Bromo untuk melempar Kurban (Sesaji) ke dalam kawah.

Upacara Unan-Unan, diadakan hanya setiap lima tahun sekali. Tujuannya adalah untuk mengadakan penghormatan terhadap Roh Leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu Kerbau. Kepala Kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak ke sanggar pamujan

untuk info tentang Gunung Bromo silahkan Hubungi kami, Baca Juga Mengenai Cara Pergi Ke bromo , Tips Wisata Ke Bromo, Sewa Mobil Murah Ke Bromo, Paket Wisata Bromo,

Posted in Berita. Tagged with , , , , .